Kamis, 19 Agustus 2021
PESAWAT SEDERHANA
Jumat, 23 Juli 2021
WALAU PANDEMI TETAP RAIH PRESTASI
Assalaamu’alaikum Wr. Wb
Hallo guys….selamat bertemu lagi dengan kami keluarga besar SMP
Negeri 4 kepil kabupaten Wonosobo……. Saat ini memang masih masa Pandemi
Covid-19, yang entah kapan akan
berakhir???, namun semua itu tidak menyurutkan semangat kami untuk selalu
berkreasi, khususnya dalam bidang Pendidikan.
Kali ini SMP N 4 kepil akan menyajikan berbagai kegiatan terutama
yang berkaitan dengan lomba baik FLS2N maupun yang lain.
Untuk lomba FLS2N, kami menampilkan dua cabang lomba yaitu :
1. 1. Lomba Menyanyi Solo
2. 2. Kreatifitas Seni Musik
Tradisional
Dua macam lomba tersebut sudah terlaksana dan alhamdulillah berkat
doa dan kesungguhan dari para siswa dan para pembimbing dua cabang lomba
tersebut semuanya mendapatkan Juara walaupun baru tingkat kabupaten.
Untuk Menyanyi Solo mendapatkan Juara 2 kabupaten, sedangkan
Kreatifitas seni music tradisional mendapatkan Juara 3.
Semoga diwaktu yang akan datang akan lebih meningkat, baik
kwantitas maupun kwalitas lomba untuk menjadi yang terbaik dan menjadi Idola
bagi masyarakat sekitar.
Baiklah untuk lebih jelasnya marilah kita saksikan Video lomba tersebut .......
FLS2N 2021-SMP 4 KEPIL
WONOSOBO JATENG -JESSICA
3. Lomba menulis sinopsis asal
usul / Babat Wonosobo dalam rangka hari Jadi Wonosobo.
Untuk
lomba yang satu ini baru akan dilaksanakan, smoga anak anak mampu untuk menulis
sinopsis tentang sejarah Wonosobo dari menyaksikan Video.
Lomba
ini dibimbing oleh Guru bahasa Indonesia,
.... smoga juga mendapatkan Juara ya ?
Inilah
salah satu Sinopsis Babat Wonosobo Karya Salah satu Siswa SMP N 4 Kepil :
LEGENDA
WONOSOBO.
Berdasarkan cerita rakyat, pada sekitar awal abad 17 tersebutlah
tiga orang pengelana masing-masing bernama Kyai Kolodete, Kyai Karim dan Kyai
Walik, mulai merintis suatu permukiman di daerah Wonosobo. Selanjutnya Kyai
Kolodete berada di dataran tinggi Dieng, Kyai Karim berada di daerah Kalibeber
dan Kyai Walik berada di sekitar kota Wonosobo sekarang ini. Di kemudian hari
dikenal beberapa tokoh penguasa daerah Wonosobo seperti Tumenggung Kartowaseso
sebagai penguasa daerah Wonosobo yang pusat kekuasaannya di Selomanik.
Dikenal pula tokoh bernama Tumenggung Wiroduta Wonosobo yang di
Pecekelan – selanjutnya dipindahkan sebagai pusat kekuasaannya yaitu Kalilusi, kemudian
ke Ledok yang selanjutnya dipindahkan
lagi di Plobangan selanjutnya di kota Wonosobo sekarang ini.
Salah seorang cucu Kyai Karim juga disebut sebagai salah seorang penguasa Wonosobo. Cucu Kyai Karim tersebut dikenal sebagai Ki Singowedono yang telah mendapat hadiah satu tempat di Selomerto dari Keraton Mataram serta diangkat menjadi penguasa daerah ini namanya berganti menjadi Tumenggung Jogonegoro. Pada masa ini Pusat kekuasaan dipindahkan ke Selomerto. Setelah meninggal dunia Tumenggung Jogonegoro dimakamkan di desa Pakuncen. Selanjutnya pada masa perang Diponegoro ( 1825 - 1930 ), Wonosobo merupakan salah satu basis pertahanan pasukan pendukung Diponegoro. Beberapa tokoh penting yang mendukung perjuangan Diponegoro adalah Imam Misbach atau kemudian dikenal dengan nama Tumenggung Kertosinuwun, Mas Lurah atau Tumenggung Mangkunegaran, Gajah Permodo dan Kyai Muhamad Ngarpah. Dalam pertempuan melawan Belanda, Kyai Muhamad Ngarpah berhasil memperoleh kemenangan yang pertama. Atas keberhasilan itu Pangeran Diponegoro memberi nama kepada Kyai Muhamad Ngarpah dengan sebutan Tumenggung SETJONEGORO. Selanjutnya Tumenggung SETJONEGORO diangkat sebagai penguasa Ledok dengan gelar TUMENGGUNG SETJONEGORO. Eksistensi kekuasaan SETJONEGORO di daerah Ledok ini dapat dilihat lebih jauh dari berbagai sumber termasuk laporan Belanda yang dibuat setelah perang Diponegoro selesai. Disebutkan pula bahwa SETJONEGORO adalah Bupati yang memindahkan pusat kekuasaan dari Selomerto ke kawasan kota Wonosobo sekarang ini. Asal usul nama Wonosobo sangat erat kaitannya dengan banyaknya para pendatang. Menurut peristilahan, Wonosobo berasal dari dua kata yaitu “wono” yang artinya hutan, dan “sobo” yang artinya mengunjungi. kata Wonosobo kurang lebih artinya kawasan hutan yang banyak dikunjungi. Pada awat abad ke-17 agama Islam sudah mulai berkembang luas di daerah Wonosobo.
Seorang tokoh penyebar agama Islam yang sangat dikenal pada masa itu adalah Kyai Asmarasufi, yang dikenal pula sebagai menantu Ki Wiroduto salah seorana penguasa di Wonosoho Kyai Asmarasufi yang mendirikan Masjid Dukuh Bendosari dipercaya sebagai cikal-bakal atau tokoh yang kemudian menurunkan pada ulama Islam dan pemilik pondok pesantren yang ada di Wonosobo pada masa berikutnya seperti Kyai Ali Bendosari, Kyai Syukur Sholeh, Kyai Mansur Krakal, Kyai Abdulfatah Tegalgot, Kyai Soleh Pencil, Kyai As'ari, Kyai Abdul Fakih, Kyai Muntaha dan Kyai Hasbullah. Demikianlah, dari hari ke hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, waktu berjalan terus, keadaan Wonosobo makin lama makin berkembang sejalan dengan kemajuan peradaban manusia. Dan selanjutnya pada masa antara tahun 1825 - 1830 atau tepatnya pada masa Perang Diponegoro, Wonosobo merupakan satah satu medan pertempuran yang penting dan bersejarah.
Daerah ini adalah salah satu basis pertahanan pasukan pendukung Pangeran Diponegoro, dengan kondisi alam yang menguntungkan serta dukungan masyarakat yang sangat besar terhadap perjuangan tersebut. Beberapa medan pertempuran yang menandai perjuang pasukan pendukung Pangeran Diponegoro tersebar di Gowong, Ledok, Sapuran, Plunjaran, Kertek dan sebagainya. Di samping itu dikenal pula beberapa tokoh penting di Wonosobo yang mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro melawan kekuasaan kolonial Belanda. Tokoh-tokoh tersebut antara lain adalah Imam Misbach atau di kemudian hari dikenal dengan nama Tumenggung Kartosinuwun, Mas Lurah atau Tumenggung Mangkunegaran, Gajah Permodo dan Ki Muhammad Ngarpah.
Nama yang terakhir ini adalah tokoh penting yang mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro di Wonosobo. Walaupun perjuangan Muhammad Ngarpah tidak terbatas di daerah Wonosobo saja melainkan juga di daerah Purworejo, Magelang, Klaten dan sebagainya, akan tetapi keberadaan beliau sangat penting dalam sejarah Wonosobo. Muhammad Ngarpah bersama-sama Mulyosentiko memimpin pasukan pendukung Pangeran Diponegoro menghadang pasukan Belanda di Legorok dekat Pisangan Yogyakarta. Dalam pertempuran di Legorok tersebut Ki Muhammad Ngarpah bersama-sama Ki Mulyosentiko beserta pasukannya berhasil menewaskan ratusan tentara Belanda, termasuk empat orang tentara Eropa. Mereka juga berhasil mengambil emas lantakan senilai 28,00 gulden pada saat itu. Pada pencegatan di Legorok, Belanda mengatami kekalahan sehingga hanya beberapa orang saja yang dapat melarikan diri. Menurut catatan sejarah, kemenangan Ki Muhammad Ngarpah serta para pendukungnya itu adalah kemenangan pertama pasukan pendukung pangeran Diponegoro. Maka berdasarkan keberhasilan tersebut Pangeran Diponegoro memberi nama Setjonegoro kepada Muhammad Ngarpah dan nama Kertonegoro kepada Mulyosentiko.
Selanjutnya Setjonegoro diangkat sebagai penguasa Ledok dengan gelar Tumenggung Setjonegoro. Pada masa-masa berikutnya Setjonegoro terus aktif mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro, bersama-sama dengan tokoh pendukung lainnya seperti Ki Muhammad Bahrawi atau Muhammad Ngusman Libasah, Muhammad Salim, Ngabdul Latif dan Kyai Ngabdul Radap. Dalam pertempuran di Ledok dan sekitamya,Tumenggung Setjonegoro mengerahkan 100 orang prajurit yang dipimpin oleh Mas Tumenggung Joponawang untuk menghadapi serbuan Belanda. Tumenggung Setjonegoro juga pemah mendapat tugas dari Pangeran Diponegoro untuk mengepung benteng Belanda di Bagelen. Dalam pertempuran di daerah Kedu, pemimpin pasukan Belanda bemama Letnan De Bruijn terbunuh. Selain itu Setjonegoro dan Kertonegoro juga terlibat dalam pertempuran di daerah Delanggu. Mereka memimpin pasukan ke daerah Lanjur untuk menghadang pasukan Belanda yang datang dari Klaten.
Dari hasil Seminar Hari Jadi Wonosobo pada
tanggal 2 April 1996 (yang dihadiri oleh Tim Peneliti Hari jadi Wonosobo dari
Fakultas Sastra UGM, Muspida, sesepuh dan pinisepuh Wonosobo termasuk yang ada
di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, pimpinan DPRD dan pimpinan komisi serta
instansi di Wonosobo), disepakati bahwa momentum Hari Jadi Wonosobo jatuh pada
tanggal 24 Juli 1825, dan hal ini telah ditetapkan menjadi Perda dalam Sidang
Pleno DPRD Kabupaten Wonosobo tanggal 11 Juli 1994. Dipilihnya tanggal tersebut
erat kaitannya dengan peristiwa kemenangan pertama pasukan pendukung pangeran
Diponegoro yang dipimpin oleh Ki Muhammad Ngarpah atau Tumenggung Setjonegoro
di Legorok. Walaupun serangan yang berhasil itu tidak terjadi di wilayah
Wonosobo, akan tetapi peristiwa itulah yang mengangkat karir Muhammad Ngarpah
sehingga diangkat menjadi penguasa Ledok dengan gelar Tumenggung Setjonegoro.
Adapun penguasa atau kepala pemerintahan Kabupaten Wonosobo dari
tahun 1825 sampai sekarang adalah sebagai berikut :
1. Tumenggung SETJONEGORO
1825 – 1832
2. Tumenggung R.
MANGOENKOESOEMO 1832 – 1857
3. Tumenggung R.
KERTONEGORO 1857 – 1863
4. Tumenggung
TJOKROHADISOERDJO 1863 – 1869
5. Tumengung
SOERJOHADIKOESOEMO 1869 – 1898
6. R. Tumenggung
SOERJOHADINEGORO 1998 – 1919
7. Adipati R.A.
SOSROHADIPRODJO 1920 – 1944
8. Bupati R. SINGGIH
HADIPOERA 1944 – 1946
9. Bupati R. SOEMINDRO
1946 – 1950
10. Bupati R. KADRI 1950 –
1954
11. Bupati R. OEMAR
SOERJOKOESOEMO 1955 – .
12. Bupati R. SANGIDI
HADISOETIRTO 1955 – 1957
13. Kepala Daerah
RAPINGOEN WIMBOHADI SOEDJONO 1957 – 1959
14. Bupati R. WIBOWO HELLY
1960 – 1967
15. Bupati Kepala Daerah
Drs. DARODJAT A.N.S. 1967 – 1974
16. Pj. Bupati Kepala
Daerah R. MARDJABAN 1974 – 1975
17. Bupati Kepala Daerah
Drs. SOEKANTO 1975 – 1985
18. Bupati Kepala Daerah
Drs. POEDJIHARDJO 1985 – 1990
19. Bupati Kepala Daerah
Drs. H. SOEMADI 1990 – 1995
20. Bupati Kepala Daerah
Drs. H. MARGONO 1995 – 2000
21. Bupati Drs. TRIMAWAN
NUGROHADI 2000 - 2005
Kamis, 24 Juni 2021
WORKSHOP KTSP SMP NEGERI 4 KEPIL TAHUN PELAJARAN 2021 / 2022
Masa pandemi .... tidak menyurutkan semangat para Pengelola SMP N 4 kepil untuk selalu bekerja dengan sungguh sungguh memberikan pelayanan terbaik bagi Seluruh peserta didik dan lingkungannya untuk selalu meningkatkan pembelajaran, walaupun dilaksanakan DARING, dan selalu mematuhi Protokol kesehatan.
Seperti disampaikan pemerintah, mau tidak mau kita semua tampaknya harus memasuki era new normal. Tentu saja ini menjadi beban berat bagi para pelaku pendidikan. Pasalnya, kurikulum pendidikan yang ada saat ini tidak dirancang untuk kondisi-kondisi khusus seperti pandemi. Lagi pula, siapa yang bakal membayangkan bahwa kita semua akan diterjang badai Covid-19?
Di sisi lain, ‘kembali ke sekolah’
tampaknya menjadi kebutuhan yang tak kalah penting. Pasalnya, seperti dikutip
dari CNN Indonesia, pandemi Covid-19 yang memaksa anak-anak belajar di rumah,
ternyata berpengaruh pada capaian pendidikan siswa dan kondisi psikososial. Covid-19
menyebabkan banyak siswa yang merasa terisolasi dari relasi pertemanan, merasa
takut terpapar virus, bosan dengan situasi di rumah, hingga merasakan dampak
dari ketegangan di dalam keluarga yang secara ekonomi terdampak
Untuk menjamin hak-hak anak memperoleh
pendidikan dapat terpenuhi, serta untuk memastikan keselamatan jiwa dan
kesehatan mereka terjaga, revisi kurikulum pendidikan yang
menyesuaikan dengan kondisi pandemi menjadi kebutuhan mendesak untuk
saat ini. Apalagi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim telah
menargetkan semester awal dimulai bulan Juli. Meskipun tentu saja, keputusan
kapan sekolah bisa mulai dibuka kembali, tergantung hasil koordinasi antara
Mendikbud dengan Gugus Tugas Penanganan Covid-19.
Di berbagai pemberitaan media massa,
para pakar pun sudah membeberkan skenario terbaik untuk penerapan new normal di
sekolah. Dari sekian banyak skenario, yang paling sering disampaikan adalah
kombinasi antara pertemuan tatap muka di kelas (dengan jumlah siswa lebih
sedikit) serta pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan internet.
Implikasi dari skenario tersebut,
pendidik mesti merancang cara penyampaian bahan ajar yang paling efektif,
khususnya dalam pembelajaran secara daring. Namun pada prinsipnya, apapun media
yang dipergunakan, pembelajaran daring maupun luring harus mampu menghasilkan knowledge (pengetahuan), skill atau keterampilan, dan character (karakter).
Di sinilah letak tantangannya. Di sela waktu yang cukup sempit menjelang dimulainya semester baru, segala persiapan harus dibuat dengan benar-benar matang lalu dieksekusi dengan sempurna.
Agar pelaksanaan Kurikulum 2013 di masa Pandemi dapat berjalan dengan baik, perlu dilakukan pelatihan bagi para guru yang akan melaksanakan kurikulum tersebut.
Pelatihan ini diadakan di Ruang Khusus SMP Negeri 4 Kepil, yang dilaksanakan pada
tanggal 7 sampai dengan 9 Juni 2021. Pelatihan
ini mengusung Tema “Workshop Penyusunan KTSP Masa Pandemi Covid-19”. Pada
pelatihan ini, SMP Negeri 4 Kepil mengundang
Bapak Truko Tiyanto, .MPd. selaku Pengawas SMP Kabupaten Wonosobo, sebagai Nara
Sumber.
Undangan lainnya adalah Semua Anggota Komite sekolah serta Perwakilan Pengurus OSIS SMP Negeri 4 Kepil.
Pelatihan ini sekaligus pemeriksaan perangkat pembelajaran yang sudah dibuat oleh
para guru dan Kesepakatan atau komitmen bersama untuk penyusunan perangkat
kurikulum serta administrasi pembelajaran.
Berikut adalah dokumentasi Pelaksanaan Workshop KTSP SMP N 4 Kepil Tahun Pelajaran 2021 / 2022. :
Kamis, 07 Januari 2021
Selasa, 30 Juni 2020
Senin, 29 Juni 2020
BERGABUNG DI GOOGLE CLASROOM
- Guru dapat membagikan materi pelajaran/silabus
- Guru juga dapat memberikan/mengirimkan tugas
- Mengadakan Tes, ulangan , ujian/kuis ataupun penilaian lainnya yang
relevan dengan K-13
- Guru dan siswa dapat melakukan Tanya jawab secara interaktif
- Siswapun dapat melihat tugas mendatang lewat Google Calendar
- Anda langsung login ke aplikasi Google Classroom atau akses lewat
peramban di PC Anda.
- Langsung Klik Get Started, dan pilih email Google yang ingin digunakan
untuk bergabung di Google Classroom.
- Tekan tanda plus (+) di pojok kanan.
- Ada dua pilihan, yaitu Join Class ( bergabung dengan kelas yang sudah
ada ) dan Create Class ( membuat kelas baru ). Jika Anda bermaksud untuk
bergabung di salah satu kelas, pilih Join Class.
- Setelah gabung ke kelas, Masukkan 7 digit Class Code yang sudah
diberikan terlebih dahulu. kalau belum dapat code yang dimaksud, segera
tanyakan ke guru Anda.
- Jika sudah tergabung ke dalam kelas, Anda bisa melihat tugas atau
materi yang dibagikan guru di Stream atau Classwork. Coba Anda klik
mungkin ada tugas dari guru.
- Sama seperti tadi, Anda Masuk ke aplikasi Google Classroom atau akses
lewat browser di komputer .
- Klik mulai (Get Started ), dan pilih alamat email Google Anda yang
ingin digunakan untuk bergabung di Google Classroom.
- Tekan tanda plus (+) di pojok kanan.
- Seperti tadi , akan ada dua pilihan, yaitu Join Class dan Create
Class. Pilih Create Class.
- Ada dua pilihan, yaitu teacher/student. Anda bisa memilih salah
satunya.
- Isi kolom class name, section, subject, dan room.
- Setelah kelas dibuat, Google Classroom akan otomatis generate class
code. Anda bisa membagikan class code ini kepada para murid agar bisa Join
Class.
- Pada bagian Classwork, Anda bisa mengunggah materi, memberikan tugas,
atau mengadakan kuis.
- Anda dapat membuat pertanyaan kuis tidak perlu diketik satu per satu
di bagian question/pertanyaan. Jadikan satu file, kemudian unggah dengan
klik Add.
- Jangan lupa tetapkan skor maksimum yang bisa didapat pelajar dan
tenggat waktu (due). Kemudian klik Assign.
- Lakukan hal yang sama untuk memberikan tugas berupa daftar pertanyaan.
Jadikan satu file, kemudian unggah dengan klik Add.
- Jangan lupa tetapkan skor maksimum yang bisa didapat pelajar dan tenggat waktu (due). Kemudian klik Ask.
- Cara Mengakses area Classroom lainnya
- Untuk siswa, saat login, Anda akan melihat kelas yang dibuat oleh
pak Guru dan bu Guru kalian ya?. Klik Gabung untuk menambahkan diri Anda ke kelas. Untuk
mengetahui detailnya, lihat Bergabung dengan kelas.
- Untuk Guru dan siswa, klik Menu untuk mengakses area
Classroom lainnya.
- Kelas—Untuk siswa, buka kelas Kamu. Untuk Guru,, lihat cara membuat
kelas.
- Kalender—Untuk siswa, lihat kalender kelas Anda. Untuk Guru,
pantau tugas siswa pada kalender kelas.
- Tugas—Untuk siswa, buka Melihat semua tugas untuk kelas. Untuk
pengajar, buka Melihat tugas siswa di halaman Daftar tugas.
- Setelan—Mengubah foto profil atau sandi Anda. ( sumber : https://support.google.com/edu/classroom/answer )






















